Hujan Menghujam Senja yang Perlahan Henghitam

Senja bergeming, tak ingin mengalah pada Matahari. Ia terus menarik Bumi menuju gerbang malam. Awan menghitam, di kejauhan mulai tampak seperti barisan serdadu, Hujan. Perlahan mendekat berpacu dengan senja yang juga mulai menghitam, berubah menjadi malam.

Hujan, air yang jatuh beraturan, karya sang Ilahi yang sungguh indah. Kata orang, hujan itu penuh keromantisan. Ada cinta yang jatuh bersamanya. Cinta yang tentu dirasa oleh mereka yang sedang dilanda badai cinta.

Hujan menghujam senja, larut dalam sendu melodi, iringi iring-iringan makhluk menuju malam. Bintang masih menanti, memebar aroma kemesraan di ujung pandang mata, bersama Bulan di sisinya. Akankah malam ini Penuh bintang berteman Bulan, ataukah mereka harus mengalah pada Kabut hitam setelah hujan?

Aku pun melangkah melewati gerbang senja dengan rintik Hujan, menuju malam dengan harap ada Bintang yang menanti di ujung mata, bersama Bulan di sisinya. #refleksi sore jelang malam, 9 Juni 2015.

Krispinus Haruman

Advertisements

About Krispinus

Kesederhaan, Ketulusan, dan Kerendahan Hati menjadi jalan menuju hal-hal baik lainnya. Menulis itu hobi, Tetapi menulis dengan hati adalah anugerah yang tak semua orang miliki.
This entry was posted in cerita sehari-hari, Puisi & Cerpen, puisi dan sastra, sorotan penglihatan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s