Kampung Kopi Yang makin Gelap

Peta Kopi Indonesia

Pagi ini Mr. Google membawaku pada gambar spesial ini yang kutemukan secara tidak sengaja. Kerinduanku pada kampung halaman menhantarku pada gambar ini.

Rindu, mungkin itulah tema utama di hatiku pagi ini. Dan kerinduan pun membawaku pada gambar ini, Peta Kopi Indonesia. Ada nama kampung halamanku disana, Colol. Aku yakin tak banyak orang yang tahu. Daerah ku lebih dikenal dengan potensi wisata yang luar Biasa. Siapa yang tak kenal dengan potensi wisata di daerahku, Manggarai. Ada Pantai Pink (Pink beach) disana, taman nasional komodo, wisata pantai yang menawan, alam bawah laut yang indah, dan di daerah sekitarnya ada pula obyek wisata terkenal lain, seperti danau tiga warna yang tersohor itu, Kelimutu. Tak banyak yang mengenal daerahku sebagai salah satu “kampung Kopi” terbaik di dunia.

Kampung kopi, sebutan yang pas untuk tanah kelahiranku yang sayangnya hanya menjadi pemain jago kandang karena kalah nama dibanding kopi dari daerah lain di Indonesia. Bahkan saat ini mulai tertinggal dibandingkan dengan saudara tetangganya, Kopi Bajawa yang mulai banyak dikenal.

Sejarah sejak jaman Kolonial menggoreskan kisah tentang kopi Colol dan beberapa desa disekitarnya sebagai kopi dengan rasa spesial. Namun nasibnya kini boleh dibilang menyedihkan. Nama besar di masa lalu sudah mulai hilang dan catatan sejarah pun mulai kusam. Banyak yang berperan dalam kemunduran ini. banyak pihak yang terlibat menjadikan kampung kopi ini makin gelap.

Tak bisa dipungkiri, petani yang mempunyai mimpi dan cita-cita hidup sejahtera dari kopi menjadi salah satu pemeran yang menjatuhkan pamor Colol, Manggarai Timur sebagai salah satu kampung kopi terbaik. Hidup yang bergantung dari kopi membuat mereka diselimuti rasa takut kalau-kalau “memodifikasi” kebun akan menyebabkan hasil panen tahun berikutnya akan menurun dan mereka kehilangan penghasilan. Padahal seharusnya perlu dilakukan dan sudah menjadi resiko bahwa naik turun hasil produksi itu sesuatu yang biasa. Peremajaan Kopi perlu dilakukan secara perlahan, sehingga petani tidak perlu cemas akan kehilangan peghasilan.

Peran Pemerintah juga menjadi penentu dalam pengembangan dan kemajuan pertanian, khususnya Kopi di daerah ini. Apa yang dilakukan pemerintah selama ini? Membagi-bagi bibit saja tidaklah cukup, apalagi sosialisasi yang tidak diikuti dengan tindakan.

Saya tidak menyalahkan pemerintah atas apa yang terjadi saat ini. Namun kenyataan terjadi bahwa campur tangan pemerintah yang intens dan serius akan sangat menentukan nasib para petani kopi. Pemerintah bukan hanya sebatas instansi yang tiap tahun melaporkan persentase komoditi lokal, hasil pertanian, dan lain sebagainya. Pemeritah adalah “Penyelamat”. Di daerah lain, komoditi lokal dapat berbicara di kancah nasional maupun internasional karena peran pemerintah yang “memegang” tangan petani, para pengrajin, dan produsen komoditi lainnya. Apa salahnya disediakan wadah khusus yang menampung komoditi rakyat, agar tidak menjadi mainan para pembeli nakal. Atau jika tidak, tarik minat para pengusaha yang baik hati yang mau menjadi “penyelamat” rakyat dan para petani, dan pemerintah mengawaasi.

Hal lain yang dapat menyelamatkan kopi Colol, adalah melalui Promosi Wisata. Mengapa tidak menjadikan Colol dan Desa di Sekitarnya Sebagai Desa Wisata. Apa yang terjadi di pulau Jawa patut menjadi contoh yang sangat baik. Desa tertentu dijadikan desa wisata, misalnya desa dengan komoditi utama Salak, Atau Durian, dan komoditi lain. Potensi desa benar-benar dimunculkan dan membantu. Selain itu, peran pariwisata juga perlu diikutsertakan dalam menyelamatkan komoditas kebanggan Manggarai ini, yaitu dengan hal yang lebih sederhana. Bangun kedai atau tempat-tempat yang menawarkan nikmatnya kopi lokal di tempat-tempat wisata, bukan kopi kemasan buatan “orang luar”.

Kopi menjadi komoditi dengan sumbangan yang sangat besar bagi daerah. Kita semua bertanggung jawab untuk terus menjaganya. Jangan sampai catatan dan nama besar kopi Colol, Kopi Manggarai, hanya menjadi tumpukan kertas penuh cerita tanpa pernah melihat sisa-sisa kejayaannya di masa datang. jangan biarkan kampung kopi menjadi makin kelam, makin gelap, dan mejadi hitam nasibnya, sehitam kopi Pa’it (Pahit).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s