(Masih) tentang Kampung Kopi

Seperti tak ada habisnya bercerita tentang kopi, apalagi bagi mereka yang jatuh cinta dan menyatakan cintanya pada kopi. Kali ini aku kambali menghadirkan sedikit cerita tentang kopi, bukan tentang aroma atau aneka rasa khas kopi dari berbagai tempat yang patut untuk dicoba, tapi tentang kampung kopi, yang sebelumnya juga nongol di blog ini.

Di kampung Kopi lagi seru-serunya musim panen kopi. Komoditi andalan dan kebanggaan warga kampung kopi (kampung Colol). Bulan April – September menjadi bulan yang sibuk dan sekaligus bulan penuh senyuman di wajah para petani karena kesibukan dan kerja keras mereka terbayar dengan Rupiah yang mereka dapat dari penjualan hasil panen.

Memoriku tentang kopi dan kampung kopi kembali terbuka, lembaran kisah sejarahku yang pernah kutulis di masa lalu. Aku ingat saat-saat musim panen kopi, setiap pagi orang-orang bertegur sapa, berpapasan di jalan menuju kebun masing-masing. Nyanyian Nenggo (aliran lagu tradisional setempat) yang terdengar dari hampir setiap kebun, sebuah kebiasaan para petani yang menyanyi sambil memetik kopi. Mungkin tujuannya untuk menghibur diri sambil menggerakkan jemari , melepaskan buah dari rantingnya, atau mungkin ungkapan rasa senang karena panen yang menjadi berkat bagi mereka. Tetapi yang jelas, Nenggo menjadi bumbu pelengkap saat musim kopi tiba. Kurang lengkap rasanya tanpa Nenggo berbisik diantara rimbun pepohonan, diselingi dengan panggilan untuk saudara mereka sesama petani di kebun sebelah. Indah memang.

Kemarin aku mendapat kabar dari Orang Tua bahwa mereka sedang ada di kebun, bersama beberapa orang yang biasa membantu. Ayahku sudah berusia hampir 62 tahun, namun masih sangat bersemangat untuk ke kebun, atau hanya sekadar melihat, maupun menjaga saudara-saudara yang biasa membantu di kebun saat musim panen tiba. Ibuku, lebih lagi. katanya dia sakit kalau tidak ke kebun. katanya kebun itu hiburan. Di kebun, segala  persoalan hilang, katanya. Mereka pasangan pekerja keras, dan kebanyakan orang juga berkata demikian, terutama di kampungku. Orang tuaku selalu mengucapkan ini saat kami semua bersama, “kalian mungkin tidak akan bisa sekolah tinggi kalau hanya mengharapkan gaji Bapak dan tanpa kopi”. Sedikit cerita tentang ayahku, Ayahku tercinta adalah seorang Guru Sekolah Dasar di kampung kami. Sedangkan Pendamping setianya, Ibuku, adalah seorang petani kopi terhebat yang pernah saya kenal.

Memang benar, aku dan ke empat saudaraku yang lain mungkin tidak bisa seperti sekarang kalau tak ada kopi.  Kopi menjadi sebagian cerita dalam hidup kami. Darah kami dan masa depan kami, itu karena kopi.

Kembali ke topik awal, Kampung Kopi.

Kopi menjadi kebanggaan di kampung kopi, dan kampung sekitarnya. Kampung kopi sejak dulu menyandang gelar “Colol Kopi Do” (Colol Kopi Banyak). Bahkan ada nyanyian tradisional yang syairnya bercerita tentang Colol, kampung kopi, “Le colol, le colol kopi do” (Di Colol, di Colol kopi banyak). Colol dimasa lalu (bahkan hingga sekarang) sebenarnya menjadi sebutan umum untuk beberapa kampung, seperti kampung Colol, Biting, Racang, Welu,Tangkul, Ngkiong, Wuas, dan Wangkar. Beberapa kampung ini bernaung dibawah payung nama “Colol”, dan sudah pasti, kopi menjadi “bahasa” utama.

Kopi menjadi tumpuan harapan untuk hidup, untuk menggapai cita-cita tinggi, untuk sejahtera, dan untuk yang lainnya yang bermuara pada kebaikan. Banyak yang menebar senyum, apalagi pada bulan-bulan ini (musim panen). Namun diantara senyum mereka terselip kesedihan dan kekhawatiran, kalau-kalau harga kopi kembali menjadi mainan orang berduit, seperti yang sudah biasa terjadi. Tak ada wadah, orang, dan tempat yang menjamin harga. Yang ada hanya kegelisahan, gelisah tentang biaya sekolah anak mereka, gelisah tentang upacara adat yang kadang biayanya selangit, dan kegelisahan lain yang sulit diungkapkan.

Kampung kopi yang selalu dihati, selalu menjadi cerita yang tiada habis. Suara Hati, “kapan bisa ikut petik kopi lagi?” Suara hati dari tanah jauh, Jawa.

Krispinus Haruman

Anak Kampung Kopi

23 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s