Kabut di Langit Indonesia

Begitu dirindukan saat kemarau datang, sebagai tanda akan kemungkinan hujan. Kabut, yang juga “ditolak” saat musim penghujan tiba, ketika orang-orang mulai merindukan sedikit cahaya mentari. Kabut juga sering menggambarkan dan mewakili suasana duka. “Kabut di hati” misalnya, menggambarkan suasana hati yang lagi kalut, bersedih dan diliputi kedukaan.

Kabut, kemudian mendung, dan hujan. Alur peristiwa yang kurang lebih serupa dengan sedih, kemudian kalut / galau, dan air mata. Dua hal yang terjadi pada alam dan manusia yang berakhir pada tangisan. Hujan sering digambarkan sebagai tangisan alam, hasil dari kabut dan mendung yang mewakili kesedihan dan suasana yang diliputi kedukaan dan kekhawatiran.

Kabut di langit Indonesia.

Kabut menjadi musuh matahari, yang seringkali harus mengalah karena tak dapat menerobos tebalnya gumpalan kabut. Dan menghadirkan hujan pada bumi. Matahari dan cahanya melambangkan kesuksesan, masa depan yang cerah atau kebahagiaan. Dalam hal ini matahari dimunculkan sebagai lambang kebaikan, bukan sosoknya yang membakar dan panas yang menyengat.

Kabut menghalagi matahari dan menghadirkan hujan. Hujan sering digambarkan sebagai berkah (berkat) dari Yang Kuasa kepada makhluk Bumi. Hujan membawa kehidupan baru, menghidupkan pohon yang layu dan hampir mati, dan menyelamatkan makhluk yang haus dengan kisah dramatisnya masing-masing. Namun kita juga tak bida mengelak, bahwa hujan adalah berarti duka. Hujan adalah air mata semesta.

Kabut di Langit Indonesia.

Kabut di Langit Indonesia (copy from Google)

Situasi Indonesia akhir-akhir ini memang mengundang banyak keprihatinan, mulai dari para pemikir hebat, sampai rakyat kecil (seperti saya). Masalah tak kunjung selesai, dan yang lain datang lagi dengan situasi yang lebih rumit. Kabut itu menutupi Matahari yang dari sejak dahulu dirindukan. Kabut itu semakin tebal dan mungkin sebentar lagi akan hujan. Indonesia, Negara yang oleh para pendahulu menyebutnya Surga Nusantara, penuh emas dan bunga. Indonesia yang sekarang sudah berbeda.

Memang tak ada yang bida menolak perubahan. Perubahan memang diimpikan oleh banyak orang, banyak bangsa, namun perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang bermakna baik. Apa yang terjadi pada indonesia juga sama, berubah. Namun Indonesia berbeda dan berubah menjadi kurang enak di mata. Indonesia menjadi makin penuh dengan penyamun yang membuat Si menderita menjadi tambah menderita.

Kabut itu makin tebal dan menutupi bumi Indonesia. Si Raja Adil dikepung oleh para penyamun, dia seakan tak berdaya. Indonesia, Negeri yang indah di kanvas Khatulistiwa, terlihat kusam dan suram dari mata semesta. Intrik dan strategi picik meninggalkan goresan-goresan yang merusak lukisan Indonesia.

Kabut di Langit Indonesia

Kapankah ia memberi sedikit celah pada cahaya Mentari?

Mungkin sampai dosa para penyamun itu diampuni dan angin harapan datang meniup gumpalan kabut kesedihan itu.


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Follow, Comment, or Like it, bila kalian tertarik

2 thoughts on “Kabut di Langit Indonesia

    1. Terlalu banyak org yg bermain didalamnya. Butuh waktu sih, tpi kalo makin lama bahaya juga. Yaa, kalo liat kondisi skrg cuma rakyat dan mahasiswa yg bisa membantu melawan para “penyamun” itu. Selama ini udah terbukti perlawanan Mahasiswa dan rakyat bisa membuat par “penyamun” mundur (mundur 2-3 langkah mungkin).

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s