CINTA SEPEDA LEGENDA (Cerpen)

Cinta Itu Sederhana. Foto (tampak setelah diedit) ini hasil Jepretan saudaraku, Verer Magur, di jalanan Jogja, 2010

Welcome to Jogja.  Pesan singkat itu diterimanya sesaat setelah sampai di pintu kedatangan bandara. Tatapan penuh kebingungan khas anak kampung begitu tampak jelas dari sort matanya. Rasa lelah pun higgap di ubun-ubun tan tak tertahan.  Arka, seorang remaja dari kampung asing, bermodalkan semangat dan mimpi menjadi sarjana menjejakkan kaki untuk pertama kali di tanah jawa. Berstatus orang asing, wajar jika ia dilanda kebingungan, heran, takjub melihat situasi yang sama sekali baru untuknya. Tak banyak yang dia tahu tentang Jogja. Hanya potongan-potongan cerita dari kenalannya saja yang membua ia yakin untuk merantau dan memilih Jogja. Jogja, kota yang masih selalu setia, menyediakan tempat bagi mereka yang menulis ceritanya disana, termasuk Arka.

Petualangan Dimulai.

Hari pertama ke Kampus. Arka bangun lebih pagi dari biasanya. Biasa, baru awal pasti semangat (penyakit anak kuliah). Semangat untuk bertemu teman baru dan takut telat bercampur begitu saja. Dengan sepeda bekas yang baru saja di belinya, dia berangkat. Hati kecilnya bergumam, “ini awal dari semuanya”.

“Selamat pagi, Saya dosen kalian untuk mata kuliah Penggantar Akuntansi 1. Saya Ibu Rus, Dosen senior disini. Semoga kita bisa berproses bersama dengan baik sepanjang semester ini. “Ia buu”, sahut bebarapa mahasiswa yang duduk di barisan belakang. Mereka tampak wah, berbeda dengan Arka yang sangat biasa dengan kemeja kesukaannya. “Kita kenalan dulu, mana orang sumatera?, orang Kalimantan?” lanjut ibu Rus. “Okee, ada orang Indonesia Timur disini?”. Hanya satu tangan yang muncul diantara sekian banyak kepala. “Namanya Siapa Mas? Kamu Indonesia Timur nya.., Timur mana?. Kamu Chinese? Enggak kan?. “Bukan Chinese Bu”, Arka Memotong pembicaraan Bu Rus. “Soalnya saya kurang yakin kalau kami Chinese”, Bu Rus melanjutkan diikuti tawa kecil di seisi ruangan itu. Kampus ini memang isinya banyak mahasiswa keturunan Tionghoa.

Sekian minggu pun berlalu. Seperti biasa, Arka dengan sahabat genjot-nya meluncur menuju kampus.melawati gerbang samping menuju parkiran kecil yang disediakan bagi mahasiswa yang membawa sepeda. Hanya ada bebrapa sepeda disana. Wajarlah, kebanyakan mahasiswa membawa si roda dua dan si roda empat ke kampus. Mungkin bagian dari lifestyle atau memang untuk lebih menghemat waktu.

Di depan lobby kampus ada banyak senior yang datang menghampiri. Suasananya ramai, tak seperti pasar malam.”Ada apa nih?” Tanya seorang yang belum dikenalnya. “Gak tau juga”, Arka menjawab singkat. “Hai, kita dari UKM Renang, mau gabung sama kita? Seru loh”. Arka berlalu begitu saja dari keramaian itu. Dia bergegaas ke kelas. Hari ini ada Kuis rupanya. “Okee, untuk hari ini sekian dulu, sampai ketemu minggu depan”. Suasana kelas sesaat gaduh. Hari ini UKM jadi Trending topic di antara mahasiswa baru. “Kamu ikut UKM apa Bro?” Surye teman barunya mendekat. “belum tau, paling Paduan Suara”. “Uiiih, Glen Fredly niiieee..”. “Hahahaha”, Arka tertawa lepas. “Kamu sendiri?”. “Aku bakat kurang Bro”, Surye menjawab dengan sedikit nada ngeluh, tanpa ketinggalan logat Jawa Medhok yang kental.

Singkat cerita Arka lolos seleksi masuk Paduan Suara Mahasiswa. Ia merasa kembali lagi ke dunianya, dunia yang sejak SMP di Timur sana sangat akrab dengannya. Rupanya ia sangat antusias. Mungkin karena banyak waktunya akan dihabiskan bersama teman sealirannya nanti. Disana pula nanti dia bertemu pujaan hatinya.

“Duluan ya teman-teman”. “Iaaaa, Hati-hati yaaa”. Teman-temannya kompak dan senada membalas. Tapi tenang saja, tak ada aturan di Paduan Suara untuk menjawab dengan serempak dan senada. Itu hanya kebetulan saja. Seketika Arka lenyap bersama sepeda bekasnya meninggalkan teman-temannya yang masih betah di kampus.

Dea, teman barunya. Tapi dia lebih dikenal dengan nama Helena. Pertemanan mereka seperti tak sengaja. Ruben, sahabat Helena, adalah teman “Tenor-nya” Arka di Paduan Suara. Mereka menjadi lebih sering bertemu karena Ruben. Lama berjalan, waktu berlalu. Helena makin Dekat dengan Arka. Mereka sering melewatkan malam dengan bertukar pesan singkat. Helena sering mengganggu jam belajar Arka saat malam. Maklum, Arka nggak suka nongkrong seperti yang lainnya. Selain tak punya kendaraan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis puisi atau cerita penuh khayalan di dalam kamarnya. Ya, itulah kebiasaannya.

“Boleh curhat nggak?” Seperti biasa, Helena mulai masuk di malamnya Arka. “Boleh, ada apalagi kamu sama Pacarmu?”, Arka membalas pesan singkat sahabatnya. Begitu seterusnya, malamnya Arka ada Helena. Mereka makin dekat satu sama lain. Arka mulai lebih bersabar saat latihan selesai, karena Helena mulai sesekali menajaknya makan malam di kaki lima dekat kampus, warung ayam gantung kesukaan Helena yang pelan-pelan menjadi kesukaan Arka juga. Di situpun mereka sering berpisah, Helena dengan jagoan Astrea Legendanya, Arka dengan Sepeda keluaran tahun “76-nya.

“Aku suka kalo liat kamu naik Sepeda, keren. Apalagi kalo pake topi”. Helena sering mengucap demikian saat mereka bertemu. Dan lagi-lagi Arka menanggapi dengan gaya yang sama, tersenyum. Ada yang berbeda dari mereka. Mereka nyaman ketika berdua. Namun Arka berusaha menolak, menolak perasaannya sendiri. Dalam kesendirianny ia selalu berperang dengan dirinya yang lain dihatinya. Dirinya yang lain selalu berbisik “mana mungkin orang Jawa jatuh cinta padamu. Kamu orang dari luar, dari negeri yang jauh dan asing. Orang Jawa cuma mau dengan sesama mereka. Liat kamu, Cuma modal cinta, dengan pesona sepeda klasik”.  Hatinya terus meronta, bimbang dan makin nggak menentu. Disaat yang sama ia tak tahu Helena sudah putus dari pacarnya, yang selalu menjadi bahan curhatan mereka saat malam.

“Dia sama temen-temennya mau nyari kamu katanya. Aku ribut sama dia. Katanya kamu dibalik putusnya kita”. “Loh kalian putus?” Arka sontak kaget dan seperti tak percaya. “Katanya kamu cinta sama dia, tiap kali ada masalah curhat, trus ujung-ujunganya bilang, tapi aku sayang sama dia”(Arka menirukan gaya bicara Helena). “katanya sayang, malah putus”. “Trus dia mau nyari aku mau ngapain? Bilang aja silahkan ketemu di kampus, kalo emang dia mau ketemu”. Lanjut Arka dengan gaya bicara yang “mulai Jawa”.

Situasi kembali seperti biasa, namun sang mantan masih saja sesekali menunggu di depan tangga kampus untuk menjemput Helena pulang. Pria pemberani itu rupanya nggak kapok terus-terusan diacuhkan oleh Helena.

Hati mereka makin sering bertegur sapa. Bahkan sebih sering senyum merekalah yang berbicara. Arka dan Helena makin lengket, apalagi mereka punya hobby yang sama. Mereka berdua menyebutnya Wisata Kuliner. Kaki lima jadi tempat vaforit mereka.

Petaka muncul katika ada orang lain yang datang. Helena mulai merasa terancam, di saat yang sama, Arka makin bingung dengan perasaannya. Dia sangat menyukai Helena, tapi dia takut ditolak. “Mana mungkin Orang Jawa jatuh cinta sama kamu”, sisi lain hatinya terus berbisik demikian.

Malam itu, Arka sedang menyelesaikan tugas Statistik di kos teman yang dianggapnya kakak, Tono. Tangannya bergantian antara Pena, kalkulator, dan HP. Dan, “Aku Suka Sama Kamu Arka”. (Heep) dada terasa sesak. Bingung dan tak tahu harus apa. “Ada apa?” Suara Tono mengembalikan Arka ke dunia nyata. “Helena bilang dia suka sama aku”. Udah, terima aja, kali aja Jodoh”. Tono antusias menanggapinya. Jawabannya, sudah pasti. Ringtone band Letto memecah suasana. “ayo buruan diangkat, nanti keburu basi kangennya”. Tono mencairkan suasana dengan suara beratnya. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Yang pasti mereka bahagia, tampak dari tawa dan senyum Arka saat menelpon. Malam itu, di bulan Mei, sahabat berubah menjadi cinta. Helena mengingkari ucapannya yang tak ingin berpacaran dengan sahabat dekatnya. Bahkan ia pun pernah mengatatakan itu pada Arka, sahabat cintanya.

Kisah indah Arka di kota jogja yang penuh romansa makin indah. Ada yang berubah dari biasanya. Arka mulai memberanikan diri berlatih sepeda motor dengan temannya. Cerita mereka berlanjut diatas Astrea Legenda, jagoan Helena. Helena mulai sering menjemput Arka dengan Legendanya saat mereka hendak jalan-jalan atau hanya sekedar makan di kaki lima langganan mereka.

Jogja menjadi tempat mereka menulis kisah, episode demi episode, lembaran demi lembaran. Pena cinta mereka tak kehabisan tinta, menulis dan menulis. Ada tawa disana, meski diselingi sedikit airmata karena cemburu buta, atau selisih paham yang seharusnya bisa dibahas berdua.

Dari sepeda ke sepeda motor Legenda. Begitulah kisah hingga tak terasa 1 tahun mereka berlalu sebagai sahabat yang berpacaran. “Waktu itu aku takut kamu diambil orang, makanya aku dengan seribu keberanianku nembak kamu. Kalo nunggu kamu, kapan?” Helena mengaku didepan sahabatnya yang kini dipanggilnya sayang. Episode kisah mereka terus berlanjut hingga tiba saatnya.

Sedih bercampur gembira. Itulah yang dirasakan Arka saat itu. Helena diwisuda, dan sebentar lagi mereka akan jarang bersama seperti sebelumnnya. Helena adalah senior Arka di kampus, meski secara usia mereka seumuran. Arka tak lagi menunggu di  lobby kampus, atau di perpustakaan seperti yang sering ia lakukan saat Helena masih mersamanya. Tak ada lagi kisah indah yang tertulis di dinding-dinding kampus yang selalu diam saat mereka lewat dengan tangan yang menggenggam.

Cinta itu ajaib, begitulah yang mereka alami. Mereka terus saling cinta meski waktu dan situasi berubah. Cinta memang tak lekang oleh waktu, seperti kata Kerispatih dalam lagunya.

“Sayang udah pulang kantor?, nggak lembur kan?”. Aku udah pulang kantor nih. Nanti kita ketemu yaaa? I love U. Arka mengirim pesan dengan senyum yang menyertainya. Lilin di depan mereka seperti menari tertiup hembusan AC ruangan itu. Makan malam yang romantis yang tak biasa. Arka memang nggak suka makan di tempat yang menurutnya harganya tak biasa. Ia lebih suka dengan situasi tempat makan yang biasa di pinggiran jalan. Helena pun tahu kebiasaan itu.

Mereka saling tersenyum dan menikmati makan malam itu. Helena tersentak kaget. Arka menjatuhkan sendok makannya. Dengan segera dia tunduk dan mengambilnya. Tapi, bukan sendok yang diangkatnya. Sesuatu yang lain kaluar dari sakunya. Ia meraih tangan Helena dan menunjukkan cincin sederhana itu kepada Helana. “Beberapa tahun yang lalu kamu memulai semua ini dan memanggilku sayang. Saat ini giliranku untuk kembali memintamu memanggilku sayang untuk selamanya. Will you marry me, Helena?.

END / CONTINUE ? ? ?

Solo, 29 Mei 2015

Krispinus Haruman


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Follow, Comment, or Like it, bila kalian tertarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s