Merpati Putih yang (dipandang) Hitam

Aku, orang tuaku, kami, saudara-sauradaku dipandang sebagai selumbar di mata mereka. Sungguh tak ada sebab, kami dibenci seperti seorang hamba yang berkhianat kepada tuannya. Apakah yang salah pada kami? Siapa yang menerima ketika kalian sengaja diposisikan pada tempat yang salah dan dibanjiri kata-kata hujatan dan selusin kata yang kurang enak lainnya?

Aku yakin kalian pun akan menyesali pernah mengenal mereka meskipun aliran darah itu tak bisa dihapus sebagai satu saudara. Keluargaku seperti obyek yang patut untuk ditertawakan oleh mereka.

Ini kisahku, anak dari satu keluarga yang sangat bahagia dengan kehidupan kami, namun menjadi noda bagi mereka, tanpa alasan jelas. Bahkan ketika kami mengucapkan maaf, mereka masih berpaling muka dan tak mengganggap kami ada. Ketika kata maaf itu terucap namun dibalas dengan mulut yang membungkam, apalagi? Padahal kita berada pada posisi yang sama, bersalah. Bahkan kadar kesalahanku lebih dianggap sebagai kekeliruan dibanding kesalahan, dan ini bukanlah pembelaanku semata, memang begitulah adanya. Sedangkan kesalahanmu (mereka) adalah kesalahan, dan engkau tetap menganggap aku, kami, yang bersalah? Ingin kuucapkan ini pada kalian, “omong kosong”, tapi aku tak setega kalian yang menertawai kami dengan cangkir mahal yang melekat pada jemari kalian, bersama dengan teman, rekan tawa kalian yang menemani kalian menertawai kami dan dunia.

Kami tetap baik, saat engkau akhirnya datang dengan melakonkan peran pengemis meminta tolong ketika engkau susah dan ditinggal rekan tawamu. Ketika engkau dengan desahan bercampur “lapar memanggil kami saudara. Dimana rekan tawamu itu, dimana mereka? Mereka yang dulu seperti paduan suara mencerca kami. Aku sering berujar kepada Ibuku dalam kepolosanku, “ibu, kita ini merpati putih yang mereka pandang hitam”. Dan ibuku dengan halus berbisik: semoga mereka nanti mengerti dan “kembali”. Tetapi mengapa mereka sedemikian kejam, dan ketika mereka susah dan ditinggalkan kawanan “sesama para benar” mereka, mereka mulai mencari kita. Mereka mulai mengusap bulu-bulu merpati itu dan menyekanya dengan kain agar kembali memutih, meski tak mungkin seputih dulu lagi.

Dan kamipun dengan penuh ibah, menopangnya, menghapus kesedihan di wajahnya, membantunya berdiri sambil dalam hati berharap dia (mereka) berubah dan memandang kami ada.

Semoga saja Dia kembali kejalan itu, jalan yang sejak lama dia tinggalkan sejak persimpangan itu. Jalan kebaikan.

#Kisah ini adalah cerita, refleksi, orang yang hina, ditinggalkan, namun tak pernah meninggalkan orang yang menghina dan meninggalkannya ketika mereka membutuhkannya dan berharap ibah padanya. Mereka tetap saudara.


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Follow, Comment, or Like it, bila kalian tertarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s