Hitam Putih Pelangi

Namaku Pelangi,”dilahirkan” hari kamis 25 tahun yang lalu di depan rumah ayahku. Entah siapa yang kupanggil bunda, ibu yang menghadirkan aku di dunia yang asing ini. Kursi putih rangka besi ini selalu menjadi tempatku terdiam, didepan teras rumahku. Teras rumah, ruang sendiriku yang menjadi kenangan tanpa akhir, tempat senyum lebar manisku bersama seorang pria yang wajahnya tak mirip denganku, yang kupanggil ayah.

Ayahku, pria sejati yang penuh kasih membesarkanku, bersama dengan seorang wanita yang hampir selalu mengenakan pakaian dengan model yang sama, tetapi dengan corak dan warna yang berbeda. Wanita berambut putih dengan gigi keropos yang tersisa, Nenekku. Mereka berdua membesarkanku dengan penuh cinta.

Kursi putih itu, rempatku menangis di pundak Nenekku, atau saat aku terbawa dan dengan malu bercerita dengan ayahandaku tentang pria yang menjerat hatiku, yang kemudian akhirnya membuatku menangis, merobek hatiku hingga koyak.

Di kursi putih, aku sering membanjiri kanvas hariku ketika mengingat dan merindukan ayah, yang telah pergi dan menatapku dari atas sana, menatap anaknya manisnya berjuang mencari kebaikan sejati.

Senja berlalu.

Tirai malam perlahan terbuka dengan nuansanya yang jelas berbeda dengan siang terik yang ramai. Siang dengan kepulan asap dan kucuran keringat para pencari di bawah matahari, berganti malam dengan hembusan angin dan desahan makhluk malam yang hanyut didalamya. Langit yang gelap berhias bintang-bintang yang tiap malam-malam yang berlalu tetap bertahan disana. Aku menatap mereka dari teras itu, dari kursi putih itu, sahabat diamku. Dalam hati meronta, berharap mereka juga menatapku, dan bersedia turun mendengarkan curahan hatiku.

Nenekku yang makin renta, berdiri disana dengan sisa keperkasaannya, menatapku yang bungkam dari balik pintu yang separuh menganga. Lalu terdengar suara pintu menutup, ia meninggalkanku menuju pembaringan malamnya, bermimpi tentang dunia dalam bunga tidurnya.

Bintang malam ini, kursi putih itu, terus menyeretku semakin jauh, menyusuri ruang kosong yang belum pernah dimasuki lamunanku. Miriku yang lain yang ada di dalam hatiku, membawaku kepada sosok ibu, yang masih menjadi misteri. Aku makin tak berdaya, dibawa kedalam kesedihan mendalam malam ini.

Setelah ayah, dan sekarang dia, ibunda yang masih menjadi makhuk angan-anganku. Aku melawan suara bisikan itu. Aku tak ingin terus bersedih. Sejak awan senja masih memerah, sampai gelap malam terus mendekat, aku sudah larut dalam kesedihan tentang yangh dan aku belum beranjak dari kursi putih ini. Dan sekarang, kau terus menarikku makin dalam di kesedihan, Hati? mengapa kau menggangguku dengan sosok itu, yang sapai saat ini aku tak tahu, dan pergi meninggalkanku di depan teras rumah sang pria tak dikenal yang bukan ayahku, namun kupanggil ayah dan sangat mengasihiku?

Ya, bunda pemilik rahim tempat aku disebut janin, dan menjadikanku bayi tak ber-Ibu, apalagi ayah. Dia kemana? Aku makin tenggelam hitam lumpur kesedihanku. Ayah yang sangat kurindukan bukanlah Ayah biologisku, namun sangat menyayangiku, bersama wanita hebat, ibundanya yang kupanggil Nenek.

Suara Ayah seakan kembali kudengar. Saat dia dahulu bercerita tentang wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang terbaik yang menerima cintanya, dan memliharanya. Wanita yang pergi dan harus berpisah, mengambil jalan lain di suatu persimpangan, jalan ke surga mendahuluinya. Wanita yang pergi namun selalu tinggal dihatinya. Ia juga bercerita, sebelum ayah pergi meninggalkan aku dan nenek, bahwa kesedihannya terobati setelah wanita lain hadir dalam hidupnya, Aku. Aku adalah buah hati yang tak sempat diberikan Sang kuasa saat ia dan pujaan hatinya masih bersama. Aku adalah malaikat yang sengaja diberikan Sang kuasa kepadanya melalui orang lain yang meninggalkanku di depan pintu rumahnya. Aku adalah anugerah, katanya.

Kursi putih rangka besi, dan aku, Pelangi yang menjadi warna penghiasnya yang sedang sendu. Aku terus larut dalam sedih, larut dalam rindu pada ayah, larut dalam rasa penasaran dan kecewa pada ibu yang masih menjadi misteri dan tak tahu sekarang dimana.

Kursi putih itu, dan aku pelanginya, Pelangi Ayah, Pelangi nenek, dan semoga saja Pelangi Dunia.

El Betel, Karangpandan, 21-08-2015

Krispinus Haruman


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Follow, Comment, or Like it, bila kalian tertarik

Kursi purih itu, tempat penuh kenangan,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s