REMAH-REMAH MAKNA (Keluarga Tak Hanya Sebatas Satu Darah)

REMAH-REMAH MAKNA (refleksi)

Ketika keluarga itu maknanya universal
Ketika keluarga itu maknanya universal

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua yang kucintai pergi dan meninggalkan jejak kesedihan disini”, ucap seorang remaja paruh baya dengan air mata yang perlahan jatuh ketika ditinggalkan ibunya yang pergi untuk selamanya. “Keluarga bukan hanya karena hubungan darah”.

Begitulah percakapan seorang murid dengan seorang  Guru yang sekaligus pelatih Football (American Football) di Sekolahnya. Percakapan ini adalah sedikit penggalan percakapan dalam film “When The Game Stands Tall” yang sudah saya tonton berkali-kali. Dalam kelanjutan percakapan mereka, Sang Pelatih berkata, “keluargamu adalah aku dan ke-60 saudaramu yang lain”, yang merupakan anggota tim Football di sekolahnya.

Perkataan sang Pelatih yang sekaligus Gurunya bagi saya adalah ibarat mengetuk pintu yang sedang tertutup rapat dan didalamnya terdapat penghuni namun tanpa suara. Rumah yang benar-benar senyap, luput dari perhatian sang ramai. Begitu pintu diketuk, suara sentuhan tangan yang mengetuk terdengar jelas sampai ke sudut ruangan.

Ucapan sang Pelatih benar-benar menyentuh, bahkan membangkitkan kembali semangat sang anak, yang baru saja ditinggalkan ibunya untuk selamanya. Kehilangan memang satu hal yang sangat berat untuk dihadapi, apalagi jika itu berhubungan dengan orang terdekat, keluarga.

Keluarga seringkali menjadi sumber semangat dalam hidup, meskipun kita tak bisa menampik sedikit orang menganggap keluarganya adalah neraka (tapi ini hanya sedikit pengecualian bagi mereka yang menganggap keluarga sebagai Fondasi buruk dalam hidupnya). Jadi bisa dibayangkan ketika salah satu atau seluruh anggota keluarga meninggalkan kita, kita merasa kehilangan dan jatuh dalam lumpur duka yang mendalam.

Keluargamu adalah aku dan ke-60 saudaramu yang lain, adalah ucapan yang menegaskan bahwa keluarga bukan hanya sebatas hubungan emosional berstatus “satu darah”, tetapi lebih besar dari itu merupakan hubungan istimewa dengan siapa saja yang menempatkan kita dalam satu dari sekian banyak ruang dalam hati dan hari-harinya.

Untuk kita, siapa keluarga kita? Dan apakah kita menjadikan orang lain sebagai keluarga, lepas dari statusnya yang bukan “satu darah”?

Agustus 2015

Krispinus Haruman


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Semoga bermanfaat. Sampai Jumpa di lebaran yang berikutnya….

Kalau tertarik, silahkan Follow, saya sangat bersukur untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s