Aku dipanggil “Mamas”

I love You Mamas
I love You Mamas

Bertahun-tahun sejak pertama bertemu dan menjadi sahabat dekat, aku menjadi telinga yang selalu mendengar curhatannya, menjadi tong sampah tempat dia membuang semua kisah sedihnya bersama sang Kekasih. Kadang ia bilang padaku kalau aku adalah orang terbaik yang seperti kotak pemecah misteri, dengan segala saran dan kata-kata bijak. Agak aneh memang, seorang yang belum pernah berpacaran dan menjadi teman curhat seorang perempuan manis yang sedang bergelut dengan kisahnya yang sedikit rumit. tapi begitulah, baginya aku adalah pohon di taman yang selalu disana dan menunggu mereka yang ingin menenangkan diri dan membiarkan angin menyentuhnya.

Lama berjalan, kami sering bersama, sekedar bercanda di sela-sela kosong sebelum kuliah, atau saat pulang sejenak bersama di kaki lima, dengan lelah yang menggantung di pundak. Untuk urusan kami lima dan perut, aku lebih sering nurut karena dia memang banyak maunya, dan pilih-pilih. Kalau aku, yang penting tempatnya nyaman, dan isi piringnya banyak.

Cinta memang tak kompromi.

Lama-lama jatuh cinta juga. Tapi apa daya, aku masih menjadi pohon di taman itu, menjadi teman untuknya saat sedang ingin mencari ketenangan dari sang kekasih. Dan kalaupun cinta, keberanianku terlalu kecil untuk untuk menjadikannya kata atau tindakan sebagai tanda.

Hari itu sedih menjadi tema utama kita. Status kekasih resmi dicabut dari Si lelaki dan berganti gelar mantan dengan catatan yang tidak baik. Yaaa..namanya mantan, sebagian besar lebih diingat sisi negatifnya. Hahaha..resiko jadi mantan.

Masih tentang hari itu, hari yang sedikit kelabu untuk dia, dan aku terbawa juga. Di lain sisi, aku senang karena melihat sahabat manisku lepas dari orang itu, yang telah lama membuat sahabat manisku menangis dan mengakhiri air matanya bersamaku lewat pesan yang kami kirimkan saat kami tak mungkin untuk bertemu ketika malam sudah kelewat larut.

Lama berlalu dan kami tetap seperti biasanya, dekat dan tertawa bersama. Sisi nyaman kami makin terlihat. Dan tibalah waktunya.

Cintaku menemukan cintanya. Aku bukan lagi sekedar Sahabat, tapi Mas. Cintaku yang terpendam akhirnya ditemukan oleh keberaniannya untuk mengingkari janjinya yang tak akan jatuh cinta pada sahabatnya. Itu yang ia katakan dulu, dan kini denganku, ia mengingkarinya. Ia menerima cintaku.

“Mas, boleh aku panggil kamu Mamas?”

Kok Mamas, Dek?, aku sedikit mengerutkan dahi.

“Biar beda dari orang lain yang aku panggil mas juga”

“Oh, yaa gitu juga boleh”.

Mulai saat itu, mamas lebih sering terdengar di setiap hari kami, di setiap pesan yang ia kirimkan, di setiap suara yang terucap lewat telpon.

Waktu berlalu begitu cepat, dan hingga kami menikah kini, Mamas tetap menjadi panggilan sayangnya untukku, lelaki yang menjadikannya perempuan pertama dan terakhir dalam hidupnya.

“I love U Mamas”

“I love U, Dek”, dan semoga besok dan seterusnya ucapan itu terus kami ungkapkan.

29 Oktober 2015

Krispinus


Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Semoga bermanfaat. Sampai Jumpa di lebaran yang berikutnya….

Kalau tertarik, silahkan Like, Comment,  or Follow, saya sangat bersyukur untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s