Hujan dan Cerita yang Menyertainya

Sore kemarin hujan kembali datang. Setelah sebelumnya langit berhias awan hitam, butiran hujan akhirnya jatuh dan membasahi apapun yang dilewatinya. Aku dan yang lainnya pun mengurungkan niat untuk pulang. Kami pun sejenak melempar canda sambil menunggu hujan reda di ruangan kantor.

Sambil menatap dari balik pintu kaca, kuteringat masa kecil dulu saat musim penghujan datang. Kampungku ada di dataran tinggi yang memang akrab dengan hujan. Suasana dingin dan awan yang merendah itu sudah biasa. Embun yang manis pada dedaunan dan rumput juga sudah biasa. Saat hujan datang, kami selalu bersemangat, dan aku bersama teman-teman masa kecilku seringkali bermain perang-perangan saat hujan. Bagi kami dan dunia masa kecil kami, perang-perangan saat hujan punya sensasi tersendiri. Mungkin karena efek Film perang Vietnam yang  ditonton berulang-ulang di rumahku bersama teman-teman. Rumahku memang selalu penuh saat akhir pekan. Maklum, di kampungku saat itu hanya ada beberapa rumah yang punya TV, salah satunya di rumahku. Dan saluran TV yang paling terang adalah TVRI. Acara andalan TVRI saat minggu siang pada masa itu adalah Campur Sari. Sudah jelas aku dan teman-teman bahkan orang sekampung tidak mengerti dengan segala lagu dan adegannya yang menggunakan bahasa Jawa. Di saat seperti ini, pilihan paling pas adalah nonton Film dari VCD, meskipun ada banyak yang ditonton berulang-ulang.

Kembali ke ceritaku tentang Hujan.

Sejak kecil aku suka hujan dan kehujanan, namun makin beranjak dewasa aku mulai tak suka kehujanan, meski masih menyukai hujan dan suasana hujan. Hujan dan terutama musim penghujan menjadi satu hal yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak di kampungku, bahkan hingga sekarang. Di kampungku ada hal yang terjadi setiap musim penghujan, yaitu mata air dadakan yang muncul dimana-mana. Dan kejadian seperti ini hanya terjadi di daerahku saja. Kampung lain di sekitannya bahkan tidak mengalaminya.

Kami menyebutnya dengan “Wae Pok”. Air yang keluar dari tanah dalam jumlah dan volume yang banyak. Warga kampung bahkan memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga, karena air yang keluar segar, bersih, layaknya air yang keluar dari mata air pegunungan.

Fenomena ini terjadi sepanjang musim penghujan, terutama mencapai puncaknya saat “Dureng Alo” atau hujan siang malam tanpa henti sepanjang sekitar 8 hari atau bahkan 10 hari (Dureng=musim hujan, Alo=Delapan). Biasanya terjadi pada bulan Januari.

Aku dan teman-teman sering berlama-lama di sepanjang jalan pulang sekolah untuk mencari mana “Wae Pok” yang paling besar. Yang berhasil mendapatkan akan mendapat hadiah digendong secara bergantian dengan syarat misalkan tiap orang menggendong sepanjang 20 langkah.

Fenomena “Wae Pok” ini masih terjadi sampai sekarang, namun sudah tidak sebanyak dan sebesar dulu saat aku masih kecil. Mungkin karena Periode Musim Penghujan yang sudah tidak seperti dulu lagi.

Dalam hati aku ingin sekali mengabadikan kejadian ini, mungkin saat liburan musim penghujan berikutnya sebelum kejadian ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Sekitar hampir 1 jam, hujan pun mulai reda, dan aku bergegas pulang dibawah gerimis yang masih tersisa.

Hujan, ada banyak cerita yang menyertainya.

21 Januari 2016

Krispinus

____________________________________________________________________

Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Semoga bermanfaat. Sampai Jumpa di lebaran yang berikutnya….

Kalau tertarik, silahkan Like, Comment,  or Follow, saya sangat bersyukur untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s