Mentari di Balik Awan Putih

Sejak beberapa  tahun yang lalu, aku menaruh perhatian pada tokoh yang menurutku berpengaruh besar namun terlupakan. Yaa, mungkin memang tak semua orang hebat atau pahlawan pada masanya akan diingat atau dikenang. Ada istilah pahlawan tanpa nama, ada juga yang bernama namun tak dikenang. Namanya tak berkumandang, dan sosok yang satu ini salah satunya. Inggit Garnasih, Perempuan cantik yang mendampingi sang Proklamator di masa sulit nan rumit di jaman perjuangan.

Kekagumanku bermula dari sebuah ketidaksengajaan, ketika sedang mencari tulisan tentang Sang proklamator. Ada sebaris judul kecil yang menjadi awal dari semua kekagumanku pada perempuan hebat ini.

Perempuan hebat di balik Anggunnya awan putih
Perempuan hebat di balik Anggunnya awan putih

Dari sekian banyak cerita dan berita tentang ibu Inggit, ada satu kesimpulan kecil yang muncul, Ia adalah Mentari di balik awan putih. Kemilaunya terhalang awan putih nan anggun dari nama besar sang proklamator, tertutup bentangan Bendera rajutan sang ibu Negara yang konon menggantikan posisinya disamping sang Proklamator. Tanpa mengurangi peran ibu Fatmawati, Inggit adalah perempuan yang berjuang, membekaskan jejaknya diantara jejak Sang Kekasih, berjalan dan berlari bersama diantara derita bangsa dan terror penjajah.

Cerita Inggit yang setia menemani pria gagah penuh pesona itu memang menarik, penuh drama pengorbanan, namun tugasnya berakhir tak begitu manis karena ia tak bisa bersama kekasih hatinya sampai akhir. Kesetian dan pengorbanannya hanya sampai pada gerbang menuju kemerdekaan, dan sisanya dia tenggelam bersama pekik “merdeka” para pemuda jelang masa senjanya.

Cintanya menghapus derita jaman perjuangan yang sungguh pilu. Kesetiaannya tak perlu diragukan lagi. Kapan ia mengeluh dengan semua mimpi besar sang Kekasih? Ia setia sampai pada satu titik, ketika ia tak ingin sang kekasih membagi cintanya.

Untaian cerita panjang Ingit Garnasih yang “terlambat” berkumandang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Cinta itu berkorban, dan Ibu Inggit sudah melakukannya. Namun bahwa cinta itu setia sampai akhir, adalah tugas dua insan yang saling mencinta.

_________________________________________________________________

Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Semoga bermanfaat. Sampai Jumpa di lebaran yang berikutnya….

Kalau tertarik, silahkan Like, Comment,  or Follow, saya sangat bersyukur untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s