Mentari di Balik Awan Putih

Sejak beberapa  tahun yang lalu, aku menaruh perhatian pada tokoh yang menurutku berpengaruh besar namun terlupakan. Yaa, mungkin memang tak semua orang hebat atau pahlawan pada masanya akan diingat atau dikenang. Ada istilah pahlawan tanpa nama, ada juga yang bernama namun tak dikenang. Namanya tak berkumandang, dan sosok yang satu ini salah satunya. Inggit Garnasih, Perempuan cantik yang mendampingi sang Proklamator di masa sulit nan rumit di jaman perjuangan.

Kekagumanku bermula dari sebuah ketidaksengajaan, ketika sedang mencari tulisan tentang Sang proklamator. Ada sebaris judul kecil yang menjadi awal dari semua kekagumanku pada perempuan hebat ini.

Perempuan hebat di balik Anggunnya awan putih
Perempuan hebat di balik Anggunnya awan putih

Dari sekian banyak cerita dan berita tentang ibu Inggit, ada satu kesimpulan kecil yang muncul, Ia adalah Mentari di balik awan putih. Kemilaunya terhalang awan putih nan anggun dari nama besar sang proklamator, tertutup bentangan Bendera rajutan sang ibu Negara yang konon menggantikan posisinya disamping sang Proklamator. Tanpa mengurangi peran ibu Fatmawati, Inggit adalah perempuan yang berjuang, membekaskan jejaknya diantara jejak Sang Kekasih, berjalan dan berlari bersama diantara derita bangsa dan terror penjajah. Continue reading “Mentari di Balik Awan Putih”

“Apa Aku yang Kegendutan ya?”

Suasana Hening. Semua konsen dengan kerjaan masing-masing. Pagi ini memang semua orang Sibuk, tidak seperti biasanya. Dan Suasana ruangan mendadak heboh. “Ada Apa???” Seorang teman datang dengan ekspresi penasaran. “Manager jatuh, gara-gara Kursinya ambruk”.

Aku berada satu ruangan dengan Manager, dan kami pun sontak tertawa lepas. Sang Manager ikut menertawakan kejadian yang menimpa dirinya.

Tapi Kursi sebagus itu bisa ambruk ya? Apa kursinya yang memang sudah saatnya diganti atau? (Beban melampaui kapasitas?) Hahahaha….. Sang manager lalu melepar tanya, “apa aku yang kegendutan ya?”, dan kami hanya tertawa sambil menyalahkan Kursinya yang memang harusnya sudah diganti (Padahal kalau dilihat-lihat kursinya masih baru).

Selanjutnya situasi kembali kondusif dan kami kembali bekerja seperti biasa, bergelut dengan kesibukan masing-masing di depan layar Komputer, sementara Sang Manager menunggu Kursi yang baru.

22 Januari 2016

Krispinus

____________________________________________________________________

Terima kasih sudah membaca dan mengunjungi halaman ini. Semoga bermanfaat. Sampai Jumpa di lebaran yang berikutnya….

Kalau tertarik, silahkan Like, Comment,  or Follow, saya sangat bersyukur untuk itu.

 

Hujan dan Cerita yang Menyertainya

Sore kemarin hujan kembali datang. Setelah sebelumnya langit berhias awan hitam, butiran hujan akhirnya jatuh dan membasahi apapun yang dilewatinya. Aku dan yang lainnya pun mengurungkan niat untuk pulang. Kami pun sejenak melempar canda sambil menunggu hujan reda di ruangan kantor.

Sambil menatap dari balik pintu kaca, kuteringat masa kecil dulu saat musim penghujan datang. Kampungku ada di dataran tinggi yang memang akrab dengan hujan. Suasana dingin dan awan yang merendah itu sudah biasa. Embun yang manis pada dedaunan dan rumput juga sudah biasa. Saat hujan datang, kami selalu bersemangat, dan aku bersama teman-teman masa kecilku seringkali bermain perang-perangan saat hujan. Bagi kami dan dunia masa kecil kami, perang-perangan saat hujan punya sensasi tersendiri. Mungkin karena efek Film perang Vietnam yang  ditonton berulang-ulang di rumahku bersama teman-teman. Rumahku memang selalu penuh saat akhir pekan. Maklum, di kampungku saat itu hanya ada beberapa rumah yang punya TV, salah satunya di rumahku. Dan saluran TV yang paling terang adalah TVRI. Acara andalan TVRI saat minggu siang pada masa itu adalah Campur Sari. Sudah jelas aku dan teman-teman bahkan orang sekampung tidak mengerti dengan segala lagu dan adegannya yang menggunakan bahasa Jawa. Di saat seperti ini, pilihan paling pas adalah nonton Film dari VCD, meskipun ada banyak yang ditonton berulang-ulang. Continue reading “Hujan dan Cerita yang Menyertainya”

Aku dipanggil “Mamas”

I love You Mamas
I love You Mamas

Bertahun-tahun sejak pertama bertemu dan menjadi sahabat dekat, aku menjadi telinga yang selalu mendengar curhatannya, menjadi tong sampah tempat dia membuang semua kisah sedihnya bersama sang Kekasih. Kadang ia bilang padaku kalau aku adalah orang terbaik yang seperti kotak pemecah misteri, dengan segala saran dan kata-kata bijak. Agak aneh memang, seorang yang belum pernah berpacaran dan menjadi teman curhat seorang perempuan manis yang sedang bergelut dengan kisahnya yang sedikit rumit. tapi begitulah, baginya aku adalah pohon di taman yang selalu disana dan menunggu mereka yang ingin menenangkan diri dan membiarkan angin menyentuhnya.

Lama berjalan, kami sering bersama, sekedar bercanda di sela-sela kosong sebelum kuliah, atau saat pulang sejenak bersama di kaki lima, dengan lelah yang menggantung di pundak. Untuk urusan kami lima dan perut, aku lebih sering nurut karena dia memang banyak maunya, dan pilih-pilih. Kalau aku, yang penting tempatnya nyaman, dan isi piringnya banyak.

Cinta memang tak kompromi. Continue reading “Aku dipanggil “Mamas””

REMAH-REMAH MAKNA (Keluarga Tak Hanya Sebatas Satu Darah)

REMAH-REMAH MAKNA (refleksi)

Ketika keluarga itu maknanya universal
Ketika keluarga itu maknanya universal

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua yang kucintai pergi dan meninggalkan jejak kesedihan disini”, ucap seorang remaja paruh baya dengan air mata yang perlahan jatuh ketika ditinggalkan ibunya yang pergi untuk selamanya. “Keluarga bukan hanya karena hubungan darah”. Continue reading “REMAH-REMAH MAKNA (Keluarga Tak Hanya Sebatas Satu Darah)”